Camara Derie

Reads
5
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Ocean Shack

\"Ini rumah keluarga Dlamini,\" gumamnya, mengingat informasi dari wanita tua yang membantunya.

Dengan hati yang berdebar, Zola mengetuk pintu rumah. Pintu berwarna putih. Di atas pintu, terdapat sebuah plakat kecil yang bertuliskan \"Selamat Datang\". Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang wanita paruh baya muncul di depannya. Penampilannya sangat mencirikan bagaimana perempuan Afrika berpakaian. Wanita itu mengenakan pakaian rumahan terusan berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru. Tidak ketinggalan kain penutup rambut yang dililit sehingga menjadi penutup kepala khas Afrika –doek yang juga berwarna biru.

\"Wa alaikum salam. Ada yang bisa saya bantu?\" tanya wanita itu dengan ramah.

Zola menelan ludahnya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. \"Eh, Assalamualaikum. Maaf mengganggu, apakah benar ini kediaman keluarga Dlamini?\"

Wanita itu mengernyitkan keningnya, kemudian tersenyum penuh kebaikan. \"Perkenalkan, saya Namdi, pemilik Ocean Shack. Salah satu homestay terbaik di Bo-kaap.\"

Zola terperangah untuk sesaat. Dia akhirnya bisa mengontrol ekspresi wajah yang sebelumnya tampak seperti orang konyol. Di satu sisi gadis itu merasa kecewa karena ditunjukkan sebuah penginapan alih-alih petunjuk tentang keluarganya.

Wanita tua itu pasti sesuatu. Pantas saja aku merasa dia tersenyum mencurigakan, batin Zola.

\"Kom in[1]. Kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang,\" kata Namdi sambil membuka pintu.

“Ta–tapi ….” Zola berhenti bicara ketika perutnya justru berbunyi. Seketika perempuan di hadapannya tertawa lepas tanpa ragu. Sementara itu Zola terpaksa menunduk karena malu. Dia lupa sudah berjalan seharian tanpa mengisi perut.

Kom in. Tidak ada tamuku yang boleh kelaparan.” Tanpa ragu, Namdi menggamit tangan Zola yang tepat di atas perut karena berusaha meredam bunyi perutnya yang keroncongan.

Begitu memasuki rumah, Zola disambut oleh ruang tamu yang luas dan hangat. Lantai kayu coklat gelap berkilauan di bawah sinar matahari yang masuk melalui jendela besar. Sofa kulit besar berwarna coklat tua menghadap ke perapian yang nyaman, tempat tamu dapat bersantai dan berbincang. Di dinding, tergantung beberapa lukisan yang menggambarkan pemandangan Bo-Kaap dan Cape Town, menambah keindahan ruangan.

Sit eers! Ek sal vir jou kos voorberei[2],” perintah Namdi dengan suara yang membuat Zola merasa tidak memiliki pilihan lain.

Namdi bergerak dengan ringan ke seberang ruangan yang merupakan dapur. Dapur rumah adalah ruangan yang penuh kehidupan. Dengan peralatan masak stainless steel dan meja makan kayu besar.

Zola berjalan ke arah meja makan dan duduk di salah satu kursi. Dia memperhatikan Namdi yang sibuk bergerak di dapurnya. Gadis dengan mata cokelat itu menebak meja ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita bagi para tamu. Rak-rak dapur dipenuhi dengan berbagai jenis rempah-rempah dan bumbu, mencerminkan warisan kuliner Cape Malay.

Eet! Jy kan jou nie laat honger ly as jy Bo-kaap geniet nie.[3]

Zola tidak bisa mengabaikan apa yang ada di atas meja. Piring di depannya berisi potongan daging yang telah dibumbui dengan campuran rempah-rempah. Aroma yang membuat perut Zola kembali bersuara.

Namdi kembali tertawa. “Eet!”

Zola tidak menunggu untuk diperintah lagi. Dia menikmati apa yang dihidangkan. Benar apa yang dikatakan Namdi, setidaknya dia butuh tenaga untuk menemukan keluarganya.

\"Sudah lama kamu tinggal di Bo-Kaap, Ma?\" tanya Zola. Dia merasa ini waktu yang tepat, apalagi Namdi duduk tepat di depannya.

Namdi tersenyum, \"Aku sudah tinggal di sini seumur hidupku, Zola. Bo-Kaap adalah tempat kelahiran dan tempat yang selalu aku panggil rumah. Seperti yang dikatakan oleh perempuan tua di ujung taman itu.\"

Wajah Zola memerah, menyadari bahwa Namdi mengetahui kedatangannya atas rekomendasi seorang wanita tua. Namun, dia berusaha mengabaikan itu, mungkin ini petunjuk kecil lainnya.

“Abaikan dia. Namanya Laila. Dia hanya seorang wanita tua yang suka duduk di taman. Salah satu hobinya adalah menunjukkan homestay yang kosong kepada pelancong di sekitar sini,” jelas Namdi membuat kekesalan Zola pada wanita tua itu berkurang.

\"Namdi, bisakah kamu cerita sedikit tentang sejarah Bo-Kaap? Aku sangat tertarik,\" kata Zola dengan antusias.

Namdi tersenyum dan mengangguk. \"Tentu, Zola. Bo-Kaap memiliki sejarah yang kaya. Pada awalnya, daerah ini adalah tempat tinggal bagi para budak yang dibawa dari Asia Selatan oleh penjajah Belanda. Mereka membawa budaya, agama, dan tradisi mereka ke sini. Itulah sebabnya Bo-Kaap memiliki keberagaman budaya dan arsitektur yang unik.\"

Zola terpesona mendengarnya. Dia merasa semakin terhubung dengan tempat ini dan ingin mengetahui lebih banyak. Tanpa ragu, Zola menceritakan tentang tujuannya.

\"Bisakah aku menemukan keluarga kandungku di Bo-Kaap?\" tanya Zola, mencoba menekankan harapannya.

Namdi mengedipkan matanya, \"Siapa tahu, Zola? Bo-Kaap adalah komunitas yang erat, dan cerita keluarga sering kali beredar di antara penduduknya. Mungkin ada seseorang di sini yang memiliki informasi tentang keluargamu. Kita akan mencari tahu bersama.\"

Mendengar kata-kata itu, Zola merasa harapannya semakin kuat. Dia merasa bahwa dia telah datang ke tempat yang tepat dan bahwa pencarian keluarganya akan segera berakhir. Zola memutuskan untuk menginap di Ocean Shack. Sosaties yang dihidangkan Namdi telah membuat dia yakin untuk mempercayakan keselamatan perutnya di homestay itu.

Malam itu, Zola duduk di teras homestay, menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah. Dia bertemu dengan beberapa tiga pelancong lainnya yang tinggal di homestay. Dua wisatawan domestik yang berasal dari luar Cape Town dan satu wisatawan mancanegara yang berasal dari Belanda. Perempuan itu baru tahu bahwa aktivitas duduk bersama itu terkadang sambil berbagi pengalaman perjalanan mereka.

\"Jadi, Zola, apa yang membawamu ke Bo-Kaap?\" tanya seorang pelancong, Alex, dengan rasa ingin tahu. Dialah pelancong yang berasal dari Belanda. “Mencari rekomendasi tempat honeymoon, mungkin?”

Zola menyadari tatapan Alex pada cincin di jari manisnya. Perempuan itu tertawa dengan suara pelan. Dia lupa melepaskan cincin itu. “Kau benar. Distrik ini sangat cocok untuk tempat berbulan madu. Tapi sayang tebakanmu salah.”

Alex terlihat terkejut dengan jawaban Zola. Dia membelalakkan matanya tak percaya. “Apakah kamu sedang melarikan diri dari bencana pernikahan?”

Kali ini Zola tidak dapat menahan diri untuk tidak tertawa. Gadis itu sampai memegang perut karena tidak bisa mengendalikan tawanya. Ini pertama kalinya dia tertawa lepas setelah tiba di distrik warna-warni. “Kenapa kau berpikir seperti itu? Itu mengerikan.”

“Karena kau datang ke sini sendirian.”

Zola tidak dapat menyalahkan Alex yang berpikir demikian. Atmosfer yang dibawanya terlalu suram padahal dia mengenakan cincin tercantik di jari manisnya.

Zola tersenyum dan menjawab tanpa ragu, \"Aku mencari keluarga kandungku. Aku berharap bisa menemukan mereka di sini.\"



[1] Masuklah

[2] Duduk dulu! Aku akan menyiapkan makanan untukmu

[3] Makan! Kau tidak bisa membiarkan dirimu kelaparan jika ingin menikmati Bo-Kaap.


Other Stories
Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Beyond Two Souls

Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...

Rana Takdir

"Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya melihat. Sejarah ditulis oleh mereka ...

Di Bawah Atap Rumah Singgah

Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Download Titik & Koma